PERANAN ORANG ARAB DALAM MERAIH KEMERDEKAAN INDONESIA

Posrimbarayanews.com Banda Aceh,

17/08/2024 Etnis Arab adalah salah satu suku bangsa di dunia yang cukup besar  jumlahnya. Saat ini jumlah bangsa Arab  di seluruh dunia tidak kurang 500 juta orang atau sekitar 25 persen dari populasi dunia.Di Indonesia saja Etnis Arab dari berbagai klan dan fam (marga) tidak kurang dari 3 juta orang. Selain negara-negara berbahasa Arab yang jumlahnya banyak, ditambah lagi negara-negara yang tergabung dalam Unì Emirat Arab (UEA) yang mencapai 7 negara, belum lagi yang menggunakan bahasa Arab.  Jarak antara Arab atau negeri Hijaz dengan Ibukota Indonesia di Jakarta sekitar 8 ribu km, sementara jarak Arab dengan Provinsi Aceh sebagai negeri paling awal masuk Islam dihitung dari Masjidil Haram mencapai 6,3 ribu km. 

Aceh adalah pintu gerbang penjelajah-penjelajah yang berasal dari Timur-Tengah, Eropa, Afrika dan lain-lain yang hendak menuju ke kawasan Asia Tenggara dan Tiongkok. Masifnya penjelajah dari luar Asia Tenggara yang ingin menuju Tiongkok terjadi setelah Terusan Suez dibuka oleh Ferdinand Vicomte de Lesseps tahun 1869. Namun jauh hari sebelum itu, sekitar abad ke-5 Masehi terutama ketika kekhalifahan Islam dipegang oleh Bani Umayyah yang dimulai tahun 661 hingga 750 M, orang-orang Arab yang kontra dengan kebijakan dan kepemimpinan rezim terpaksa diusir dan dibunuh terutama dari klan-klan yang memiliki hubungan nasab dengan Saidina Ali. Sebagian mereka terpaksa hijrah untuk menyelamatkan diri, ada yang migrasi ke India, Yaman, dan bahkan ke Nusantara (Indonesia) seperti di Aceh, Barus, Palembang, Maluku, Banten, dan lain-lain.

Dalam berbagai catatan klasik seperti I-Tsing (Tiongkok),Ibu Bathuthah (Maroko), Odorico da Pordenone (Italia), G.E Gerini (Italia), Marcopolo (Venesia), Tome Pires (Portugis), dan lain-lain mengakui dan menyebutkan di Nusantara terutama di Sumatra dan Aceh komunitas Arab yang beragama Islam sudah menjadi bagian dari penduduk setempat yang hidup saling menghargai, penuh toleransi, bahkan mereka masuk Islam dengan penuh kesadaran tanpa paksaan. 

Setelah mayoritas penduduk setempat diislamkan oleh orang-orang Arab, mereka membentuk komunitas berupa kerajaan- kerajaan Islam, seperti Kerajaan Islam Perlak ( Ferlec), Samudera Pasai, Jeumpa, Lamuri, dan lain-lain. Raja pertama kerajaan Perlak adalah Sayyid Abdul Aziz Syah bin Sayyid Ali Al-Mukhtabar bin Muhammad ad-Dibaj bin Jakfar Siddiq bin Muhammad Baqir bin Zainal Abidin bin Husen r.a. Setelah pemerintahan Islam di sana  dirasa sudah kuat, mereka berdasarkan keyakinan sebagai agama dakwah menyebar ajaran Islam sampai ke seluruh Nusantara hingga Thailand, Pilipina, Kamboja, Malaysia dan hampir ke semua negara di kawasan Asia Tenggara.

Atas dasar inilah salah satunya Aceh disebut sebagai negeri "Serambi Mekkah". Demikian juga penyebaran agama Islam di Pulau Jawa yang disyiarkan oleh Wali Songo, semua mereka berdarah Arab dan diyakini mereka adalah para keturunan kanjeng Nabi Muhammad saw. Pada zaman penjajahan Belanda di Indonesia, mayoritas kerajaan-kerajaan di Nusantara dan ulamanya yang berdarah Arab ikut memimpin langsung perlawanan, seperti Sayyid Abdullatif, Sayyid Umar Samalanga, Sayyid Abdurrahman Assegaf, Sayyid Abdurrahman Azzahir, Sayyid Abdullah Jamalullail, dan masih cukup banyak jumlahnya. Semua keturunan Nabi Muhammad ini berasal dari Aceh. Belum lagi di Tanah Jawa, Kalimantan, Makassar, Maluku, Papua Barat, Palembang dan di berbagai wilayah di tanah air. 

Demikian juga pada saat detik-detik proklamasi kemerdekaan Indonesia, orang-orang yang terlibat langsung cukup banyak berdarah Arab antara lain: Syarif Abdul Hamid Al-Qadri dari Pontianak, Sayyid Ali Kwitang Jakarta, Sayyid Husen Mutthahar, Abdurrahman Baswedan, bahkan rumah tempat proklamasi kemerdekaan di jalan Pegangsaan Timur Nomor 56 juga milik orang Arab dari Yaman, Faraj bin Said Awadh Martak.

Kami meyakini bahwa kontribusi lahirnya NKRI ini bukan hanya terlibat satu etnis tertentu, tetapi semua nenek moyang kita yang berasal dari antropologis mixtum, semua kita bersaudara, mari jaga ukhuwah,  soliditas dan solidaritas antar kita anak bangsa ini, lebih- lebih yang satu keyakinan, karena kita terikat dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

Dr. M. Yusuf Al-Qardhawy, MH adalah Wartawan Gajahputihnews & Pegiat dan Akademisi Sejarah Hukum Global)

Komentar

Terbaru

Sauwmill Kayu di Desa Karang Ampar Kecamatan Ketol Kab.Aceh Tengah Diduga Tak Memiliki Izin

Memasuki Minggu ke-3 Atau Hari ke-14, pembuatan sumur bor Capai 70 Persen

Kapolres Bener Meriah Membuka Latihan Pra Operasi Mantap Praja Seulawah 2024

Upacara Kehormatan Dan Renungan Suci, Dilaksanakan di Taman Makam Pahlawan (TMP)

Polsek Dewantara Tingkatkan Patroli Malam Jaga Kamtibmas

TMMD ke-121 Gelar Penyuluhan Pertanian Dan Lingkungan Hidup

Merasa Di Jebak Reje /Kepala Desa Kala Pegasing istri Wartawan Buat Laporan Polisi ke Polda Aceh.

Untuk Bangunan Gorong-gorong Kuat dan Kokoh, Satgas TMMD Bangun Leneng

Satgas TMMD Ke 121 Merangkap Guru Ngaji di TPQ Nurul Iman Desa Dedamar